Sabtu, 03 Juli 2010

TEORI BELAJAR AKTIF DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (BAGIAN 1)

Pengantar

Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan dimana guru (pengajar) dan murid (pembelajar) berinteraksi, membicarakan suatu bahan atau melakukan suatu aktivitas, guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Dr Oemar Hamalik mengartikan pembelajaran sebagai “suatu kombinasi yang tersusun, meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur, yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran”. Juga dikemukakan bahwa pembelajaran merupakan “upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik”.[2]

Salah satu unsur penting bagi guru PAK untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi pembelajaran yang direncanakan dan dikelolanya ialah pemahaman tentang konsep atau teori belajar. Kalau guru memahami bagaimana individu dapat belajar secara lebih efektif, maka ia dapat membantu peserta didiknya mengalami kegiatan belajar dengan hasil optimal. Kalau guru hanya menguasai bahan pengajarannya namun kurang mengerti cara efektif anak didik belajar, maka hasil kegiatan yang dikelolanya tentu bisa kurang memuaskan. Untuk tujuan itu, guru perlu terus belajar dari berbagai teori belajar, dan meninjau secara kritis dan konstruktif manfaatnya dalam pembelajaran PAK. Dalam kesempatan ini diperbincangkan sebuah teori pembelajaran aktif dari Dave Meier[3].

Tentang belajar aktif

Belajar aktif itu apa? Apakah ada kegiatan belajar tidak aktif atau pasif? Sebenarnya semua kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif. Tetapi mungkin saja di kelas seringkali ketika mengajar, guru hanya berbicara, bercerita, dan muridnya mendengar dan mencatat. Komunikasi satu arah yang terjadi. Guru PAK seringkali bahkan bertindak seperti pengkotbah yang menyampaikan firman Tuhan di jemaat pada ibadah hari minggu. Pendeta atau pengkotbath membacakan firman Tuhan lalu menguraikannya kepada jemaat. Jemaat dalam kondisi itu hanya sebagai penerima, yang merenung dan mencermati serta mengolah pesan yang didengar bagi dirinya sendiri. Tidak terlihat apa yang terjadi dalam diri warga jemaat itu. Tetapi kegiatan itu pun masih dapat dikatakan aktif, setidaknya dalam diri warga jemaat itu sendiri! Kecuali bila anggota jemaat tertidur. Sebab tidak sedikit juga kegiatan kotbah yang justru membuat jemaat pulas tertidur.

Kegiatan belajar PAK di sekolah harusnya tidak demikian. Tidak membuat murid tertidur. Seharusnya kegiatan itu membuat siswa aktif, seperti: mendengar dan berbicara, melihat dan membaca, bahkan melakukan peragaan atau melakukan suatu aktifitas. Diantara guru dan murid terjadi komunikasi multi arah. Prof. Mohamad Surya mengemukakan pengajaran akan bersifat efektif jika (1) berpusat kepada siswa yang aktif, bukan hanya guru; (2) terjadi interaksi edukatif diantara guru dengan murid; (3) berkembang suasana demokratis; (4) metode mengajar bervariasi; (5) gurunya profesional; (6) apa yang dipelajari bermakna bagi siswa; (7) lingkungan belajar kondusif serta (8) sarana dan prasarana belajar sangat menunjang[4].

Sekarang, pertanyaannya ialah: Kegiatan apa sajakah yang termasuk ke dalam pembelajaran secara aktif? Mengutip gagasan Paul D. Dierich, Dr Oemar Hamalik mengemukakan delapan kelompok perbuatan belajar aktif.

1 – Kegiatan-kegiatan visual: membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, pameran, mengamati orang lain bekerja, atau bermain.

2 – Kegiatan-kegiatan lisan (oral): mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, berwawancara, diskusi.

3 – Kegiatan-kegiatan mendengarkan: mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan suatu permainan instrumen musik, mendengarkan siaran radio.

4 – Kegiatan-kegiatan menulis: menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi, membuat sketsa, atau rangkuman, mengerjakan tes, mengisi angket.

5 – Kegiatan-kegiatan menggambar: menggambar, membuat grafik, diagram, peta, pola.

6 – Kegiatan-kegiatan metrik: melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan (simulasi), menari, berkebun.

7 – Kegiatan-kegiatan mental: merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, menemukan hubungan-hubungan, membuat keputusan.

8 – Kegiatan-kegiatan emosional: minat, membedakan, berani, tenang dan sebagainya.

(Hamalik, 1995:90)

Mengapa harus kegiatan belajar aktif?

Bahwa guru PAK harus berusaha mengelola kegiatan belajar aktif bersama muridnya ialah pertama, karena hakekat manusia sebagai pribadi yang dinamis. Alkitab mengemukakan bahwa Tuhan Allah menciptakan manusia sebagai pribadi multidimensi, memiliki roh, hati/jiwa (pikiran, perasaan/emosi, dan kehendak/kemauan), serta fisik (pancaindera) (bd. Kej 2:7; Ibr 4:12; 1 Tes 5:23). Ketika anak didik berkumpul di kelas, berarti guru harus melayaninya dalam kegiatan belajar dengan mengaktifkan pontesi dirinya – pancainderanya, pikiran, perasaan, kemauan bahkan rohnya. Para murid juga harus mengalami kegiatan belajar itu sebagai kelompok (komunitas) umat beriman kepada Tuhan Yesus Kristus. Dimana dua, tiga orang berkumpul, di situ kehadiran Allah sangat nyata (bd Mat 18:19-20). Sikap kesatuan dan persatuan harus ditingkatkan, supaya kegiatan kebersamaan itu bermakna.

Landasan kedua, Tuhan Yesus sendiri sebagai Guru Agung, mengajari dan melatih murid-murid-Nya dengan kegiatan aktif. Ada banyak kegiatan yang dilakukan Yesus termasuk: memberikan kotbah atau ceramah, mengemukakan perumpamaan, melakukan perbuatan kasih, menyatakan perbuatan kuasa dan mujizat, mengutus murid melakukan tugas tertentu, mendengarkan dan menjawab pertanyaan, bermain-main dengan anak kecil dan memberkati mereka, berdialog dengan tokoh-tokoh agama Yahudi. Yesus mengajar murid-Nya tidak hanya pada satu lokasi seperti di sebuah rumah saja. Ia mengajari mereka ketika di danau, di perahu, di perjalanan, di bukit, di Bait Allah dan di sinagog, atau di tempat orang menderita (kusta, dirasuk setan Gerasa), termasuk di taman Getsemane, di pengadilan Pilatus dan di Golgota. Dia mengajar di malam hari, di pagi, di siang dan sore hari. Dia mengajar secara individual juga secara kelompok kecil, kelompok sedang (tujuhpuluh murid) dan masa besar (4000 dan 5000 orang). Jika demikian, kalau guru PAK ingin membimbing murid lebih mengenal siapa Yesus Kristus, agar menjadi murid-Nya (bd Mat 28:19-20), maka keteladanan-Nya dalam mengajar harus terus menerus kita renungkan berdasarkan informasi keempat Injil![5]

Landasan ketiga ialah sifat remaja yang kita layani, sebagai pribadi-pribadi yang bertumbuh dan berubah dalam segi fisik, kognitif, emosional dan sosial. Siswa remaja di tingkat SLTP yang berusia sekitar 13/14-15/16 tahun, menginginkan kegiatan aktif secara fisik, belajar dengan gerakan tubuh atau melakukan sesuatu. Mereka menyukai kegiatan yang ceria dan menyenangkan (fun activities). Karena tengah berkembang dalam segi pola pikir dan pemahaman, remaja menginginkan diskusi, tanya jawab, dialog dengan guru atau diantara sesama rekannya. Didorong oleh rasa ingin tahu (curiosity), remaja biasanya ingin mencari jawaban atas masalahnya sendiri, melalui penyelidikannya. Kegiatan belajar aktif melalui penyelidikan sendiri atau bersama rekan-rekan, cocok bagi mereka. Karena sifat mereka yang labil secara emosional, remaja membutuhkan variasi kegiatan belajar, termasuk suasana keakraban dan persahabatan. Seturut dengan perkembangan sosialnya, siswa SLTP membutuhkan kegiatan kebersamaan dengan rekan-rekannya. Remaja cenderung lebih banyak menerima masukan dari teman sebayanya[6].

Akhirnya, pandangan ahli-ahli pendidikan yang dikembangkan berdasarkan ilmu-ilmu sosial juga patut kita dengarkan. Oemar Hamalik misalnya, mengemukakan ada sejumlah manfaat atau kegunaan dari kegiatan pembelajaran aktif, antara lain:

1 – Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.

2 – Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa.

3 – Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok.

4 – Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri, sehingga sangat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual.

5 – Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.

6 – Membina dan memupuku kerjasama antara sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara guru dan orangtua siswa, yang bermanfaat dalam pendidikan siswa.

7 – Pembelajaran dan belajar dilaksanakan secara realistik dan konkrit, sehingga mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan terjadinya verbalisme.

8 – Pembelajaran dan kegiatan belajar menjadi hidup sebagaimana halnya kehidupan dalam masyarakat yang penuh dinamika. (1995: 91).

Teori belajar aktif Dave Meier

Belakangan ini ada sebuah teori belajar aktif yang dinamakan teori holistik. Dave Meier dalam bukunya The Accelerated Learning Handbook (Kaifa, 2002), mengemukakan bahwa konsep guru mengenai siapa manusia yang diajarinya (murid) menentukan sekali terhadap kegiatan belajar yang direncanakan dan dikelolanya. Meier mengkritik kecenderungan pendidikan di Barat yang memandang manusia hanya sebagai tubuh dan pikiran. Aktivitas tubuh dan pikiran dipisahkan dalam kegiatan belajar. Pembelajaran sangat kaku. Selain itu pembelajaran individual amat ditekankan. Cara berpikir ilmiah pun sangat diutamakan. Peranan media cetak dalam belajar seperti buku sumber utama sangat ditekankan.

Dari penelitiannya, Dave Meier berpendapat bahwa manusia memiliki empat dimensi yakni: tubuh atau somatis (S), pendengaran atau auditori (A), penglihatan atau visual (V), dan pemikiran atau intelek (I). Bertolak dari pandangan ini ia mengajukan model pembelajaran aktif yang disingkat SAVI – somatis, auditori, visual dan intelektual. Dengan pemahaman ini beliau mengajukan sejumlah prinsip pokok dalam belajar, yakni:

1 – Belajar melibatkan seluruh tubuh dan pikiran

2 – Belajar adalah berkreasi, bukan mengkonsumsi.

3 – Kerjasama membantu proses belajar.

4 – Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan.

5 – Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri.

6 – Emosi positif sangat membantu pembelajaran.

7 – Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis.

Sekarang, marilah kita simak pokok-pokok pikiran Meier, bagaimana prinsip kegiatan belajar berdasarkan prinsip SAVI itu.

Pertama, belajar somatis, belajar dengan bergerak dan berbuat. Apa sajakah yang dapat dilakukan? Jawabnya ialah:

* Membuat model dalam suatu proses.

* Secara fisik menggerakkan berbagai komponen dalam suatu proses atau sistem

* Menciptakan bagan, diagram, piktogram.

* Memeragakan suatu proses, sistem, atau seperangkat konsep.

* Mendapatkan pengalaman, lalu membicarakannya dan merefleksikannya.

* Melengkapi suatu proyek yang memerlukan kegiatan fisik.

* Menjalankan pelatihan belajar aktif (simulasi, permainan belajar, dan lain-lain)

* Melakukan tinjauan lapangan. Lalu menuliskan, menggembar dan membicarakan apa yang dipelajari.

* Mewawancarai orang di luar kelas.

* Dalam tim, menciptakan pelatihan pembelajaran aktif bagi seluruh kelas.

Kedua, belajar auditori (A), kegiatan mendengar dan berbicara. Apa saja yang dilakukan dalam kegiatan?

* Membaca keras dari bahan sumber.

* Membaca paragraf dan memberikan maknanya.

* Membuat rekaman suara sendiri.

* Menceritakan buku yang dibaca.

* Membicarakan apa yang dipelajari dan bagaimana menerapkannya.

* Meminta pelajar memperagakan sesuatu dan menjelaskan apa yang dilakukan.

* Bersama-sama membaca puisi, menyanyi.

Ketiga, belajar visual (V), kegiatan melihat, mengamati, memperhatikan. Apa sajakah kegiatan dalam pendekatan ini?

* Mengamati gambar dan memaknainya.

* Memperhatikan grafik atau membuatnya

* Melihat benda tiga dimensi.

* Menonton video, film.

* Kreasi piktogram

* Pengamatan lapangan

* Dekorasi warna-warni

Keempat, belajar intelektual (I), kegiatan mencipta, merenungkan, memaknai, memecahkan masalah. Ada sejumlah kegiatan terkait dengan pendekatan ini, antara lain:

* Pemecahan masalah

* Menganalisis pengalaman, kasus

* Mengerjakan rencana strategis

* Melahirkan gagasan kreatif

* Mencari dan menjaring informasi

* Merumuskan pertanyaan

* Menciptakan model mental

* Menerapkan gagasan bagus pada pekerjaan.

* Menciptakan makna pribadi

* Meramalkan implikasi suatu gagasan.

Manfaat bagi guru PAK

Teori dan prinsip belajar aktif di atas, perlu kita responi secara positif. Adalah benar bahwa dalam kegiatan belajar berbagai aspek kedirian (persona) manusia harus dilibatkan. Allah sendiri berbicara (mengajari) manusia dengan berbagai cara dan dalam pelbagai kesempatan (bd. Ibr 1:1-2; Ul 6:6-9). Allah menghendaki kita kreatif dalam merencanakan dan mengelola kegiatan pembelajaran. Menilai hasil kegiatan itu tentunya juga jangan hanya dari satu aspek, seperti dari segi intelektual anak didik.

Karena PAK terkait dengan masalah kerohanian atau spiritualitas, maka ia sedikit berbeda dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran lainya. Alkitab mengajarkan manusia juga memiliki roh, hati dan suara hati dalam dirinya. Jika roh manusia “dijamah” Allah yang adalah Roh (bd Yoh 4:24), maka kegiatan belajar menjadi sangat aktif dan penuh makna. Kegiatan belajar menjadi transformatoris, membawa perubahan dari dalam keluar (proses inside out). Jika tidak demikian, yang terjadi ialah proses outside in atau dari luar ke dalam. Anak didik hanya bersifat konformis terhadap apa yang diajarkan oleh guru kepadanya, dalam arti menerima supaya mendapat nilai (angka) bagus! Bagaimana caranya supaya murid mengalami kehadiran Roh Allah? Jawabnya, jika mereka menyambut Yesus ke dalam kehidupannya, karena mendengarkan berita Injil secara jelas (bd Ef 1:13,14; 1 Kor 15:3,4; Rom 8:9-11). Karena itu PAK perlu terus menjelaskan berita pengampunan dosa, berita anugerah kepada para siswa.

Kegiatan belajar PAK bersifat spiritual. Karena itu bersama murid, guru harus giat berdoa, beribadah, memuji dan menyembah Dia. Guru PAK hanyalah hamba Tuhan. Dia hanya perantara (imam) Sang Raja Kristus dengan murid (1 Ptr 2:9,10). Roh Kuduslah menjadi pengajar sesungguhnya dalam diri orang percaya (Yoh 16:11-13; 1 Yoh 2:20,27). Pengakuan kita sebagai guru, kepada Pribadi Roh Tuhan ini sangat penting. Kita juga berdoa supaya dipenuhi oleh-Nya (Ef 5:18), dipimpin dan berjalan menunaikan karya bersama Dia (Gal 5:16-18). Kita juga harus menjaga diri supaya tidak mendukakan Dia (Ef 4:30). Atau supaya tidak menghambat pekerjaan-Nya (1 Tes 5:20). Kitab Kisah Para Rasul menyatakan bahwa ketika Roh Kudus hadir dan bekerja dalam hidup komunitas orang percaya, maka proses pembelajaran berlangsung dengan baik dan membawa perubahan hidup.

Guru hendaknya jangan memandang rendah pengalaman spiritual siswanya juga pergumulan yang dihadapinya. Iman Kristen yang diperlukan oleh siswa remaja dewasa ini ialah yang sifatnya praktis, termasuk bagaimana menghadapi krisis dan konflik kehidupan di rumah, di sekolah dan diantara kawan-kawan. Guru harus bersedia mendengar apa yang mereka alami dan pergumulkan. Bahkan bersedia menyimak masalah mereka lebih dari yang diucapkan. Selanjutnya guru menuntun mereka menemukan jawaban dari firman Tuhan. Mengajak murid berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, mendoakan mereka, juga membukakan hati mereka kepada Dia.

Menjadikan diri teladan iman, adalah menjadi kerinduan siswa remaja yang kita layani. Siswa di usia ini sangat gemar mengamati kehidupan tokoh-tokoh di sekitarnya, menilai apakah layak didengar, diikuti atau tidak. Firman Tuhan sendiri mengatakan bahwa dalam melayani kaum muda, para pelayan harus menjadi teladan, model kehidupan (live model) (bd. Ti 2:6,7). Guru PAK harus menanamkan pengaruh melalui keteladanan hidupnya baik dalam perkataan dan perbuatan mengajar.

Akhir kata

Mempelajari teori belajar menurut konsep-konsep keilmuan dan teori pendidikan adalah penting. Memahmi kebiasaan belajar yang kita amati dan terima dari masyarakat dan budaya juga harus kita cermati. Budaya kita menekankan pengamatan dan peniruan dalam kegiatan belajar. Begitu pula dengan pentingnya kelompok atau peran orang lain. Kita banyak belajar di dalam kelompok.

Namun, hal itu jangan membuat kita meremehkan peran Roh Tuhan yang datang ke dunia menyaksikan pekerjaan dan pribadi Yesus Kristus. Roh Kudus yang membuat orang mengerti pengajaran Alkitab, yang kita perbincangkan bersama anak didik. Dimana Roh Kudus bekerja di situ terdapat aktivitas pembaruan (2 Kor 3:17,18). (SAM)




[1] Bahan diskusi bersama Guru PAK tingkat SLTP Jawa Barat, di Bandung, Kamis, 6 April 2006.



[2] Lihat karya Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran (Bumi Aksara, 1995), h. 70.



[3] Dave Meier, Accelerated Learning Handbook (Bandung: KAIFA, 2002).



[4] Mohamad Surya, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), h. 77-79.



[5] Lihat karya J.M.Price, Yesus Guru Agung (Bandung: LLB, tt).; juga karya klasik Herman Horne, Jesus The Teacher yang direvisi oleh Angus M. Gunn (Kregel Publications, 1988)



[6] Untuk lebih jauh tentang aplikasi perkembangan remaja dalam pelayanan, lihat karya Mike Yaconelli & Jim Burns, High School Ministry (Zondervan, 1986). Karya John Santrock, Adolescence (Jakarta: Erlangga, 2004) sangat baik dibaca oleh guru-guru PAK, memberi informasi perkembangan remaja.

Tulisan ini disadur dari: (http://www.tiranus.net/teori-belajar-aktif-dalam-pembelajaran-pak/)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar